Abstrak : Penulisan ini dilatarbelakangi oleh kebiasaan siswa yang kurang memahami bacaan, lamban dalam menangkap informasi dalam bacaan, Membaca adalah sesuatu yang sangat rumit dan unik keadaannya. Belum pernah ada orang, betapa pun tingginya keahlian serta pengalamannya dalam mempelajari masalah membaca, yang berhasil baik merumuskan atau mendefinisikan membaca itu dengan tepat. Pengertian Membaca terdapat berbagai macam hal itu disebabkan oleh sekelompok orang yang merumuskan membaca berbeda-beda serta terdapat penemuan-penemuan baru dalam studi membaca.Berbagai macam masalah yang terdapat di dalam pengajaran membaca selalu menjadi pusat perhatian terutama pentingya arti, nilai, dan fungsi membaca dalam kehidupan manusia.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Membaca merupakan salah satu kegiatan yang bermanfaat banyak hal yang dapat diperoleh dari kegiatan membaca. Pengetahuan bertambah, wawasan semakin luas, sikap dan pandangan hidup pun menjadi lebih baik. Membaca tidak hanya sekedar mengeja kata-kata dalam buku tetapi memahami setiap makna yang terkandung di dalamnya, baik yang tersirat maupun yang tersurat. Namun, seringkali kita mendapatkan masalah dalam proses membaca tersebut.
Masalah-masalah yang timbul diantaranya adalah kurangnya pengetahuan kita tentang pengertan membaca, faktor-faktor pengaruh dalam membaca serta fungsi dari kegiatan membaca yang kurang dimengerti oleh kebanyakan orang.
Selain harus mengenali simbol-simbol tertulis dalam membaca juga dituntut untuk memahami apa informasi yang terdapat dalam bacaan tersebut.
Faktor pengaruh dalam membaca selain dari dalam diri si anak juga dipengaruhi oleh faktor status sosial ekonomi, bahan bacaan dan guru sangat berperan dalam kegiatan membaca.
Apapun bentuk, jenis dan sifat faktor yang berpengaruh atau masalah apapun yang timbul dalam pengajaran membaca, kelancaran dan keberhasilan dalam membaca dapat dibina secara formal lewat pengajaran membaca yang dirancang, diprogramkan, serta dilaksanakan dengan baik.
B. Rumusan Masalah
Berbagai macam permasalahan yang muncul dalam pengajaran membaca membuat keberhasilan dalam membaca masih jauh dari tujuan yang diharapkan. Untuk itu makalah ini akan menjelaskan tentang :
1. Pengertian Membaca
2. Teori Tentang Membaca
3. Faktor Pemengaruh dlam Membaca
Masalah Pengajaran Membaca dan Pembinaannya
1.Hakikat, Kedudukan dan Fungsi Pengajaran Membaca
2.Tugas dan Tujuan Umum Pengajaran Membaca
3.Macam-macam Pengajaran Membaca
4.Prinsip-prinsip Pengajaran Membaca
5.Pembinaan Pengajaran Membaca
C. Tujuan
Setelah membaca makalah ini diharapkan pembaca mampu untuk :
1. mengetahui pengertian membaca secara mendalam
2. mengetahui teori tentang membaca
3. mengetahui factor-faktor pemengaruh dalam membaca
4. mengetahui hakikat, kedudukan dan fungsi pengajaran membaca
5. mengetahui tugas dan tujuan umum pengajaran membaca
6. mengetahui macam-macam pengajaran membaca
7. mengetahui prinsip-prinsip dalam pengajaran membaca dan
8. mengetahui pembinaan dalam pengajaran membaca
BAB II
ISI
1. Pengertian Membaca
Pengertian membaca sampai dengan sekarang ini sangat banyak jumlahnya. Bentuk, isi, dan sifatnya pun beraneka ragam. Ada pengertian yang menggambarkan membaca sebagai proses melisankan paparan bahasa tulis, ada pula pengertian yang menyatakan bahwa membaca itu sebagai kegiatan memprersepsi tuturan tertulis. Selain itu, da pula yang memegang pengertian bahwa membaca adalah penerapan seperangkat ketrampilan kognitif untuk memperoleh pemahaman dari tuuran tertulis yang dibaca.dipihak lain cukup banyak pula yang mengikuti pengertian yang menganggap membaca sebagai proses berpikir dan bernalar atau sebagai proses pengolahan bahasa. Bahkan ada yang memandang pengertian membaca sebagai proses pemberian makna kepada simbol-simbol visual. Masih banyak lagi ragam pengertian tentang membaca yang lain yang ada diketengahkan orang lebih-lebih lagi kalau ingin dibahas satu persatu.
Pengertian membaca dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Pengertian yang sempit yaitu pengertian yang menganggap membaca itu sebagai proses pengenalan simbol-simbol tertulis.
b. Pengertian yang agak luas membaca adalah proses pengenalan makna kata-kata dan frasa penyusun bacaan disuatu pihak, dan proses pemaduan atau penataan berbagai unsur makna menjadi satu kesatuan makna.
c. Pengertian yang luas membaca adalah proses atau kegiatan memberikan reaksi kritis-kreatif terhadap bacaan dalam menemukan signifikasi, nilai, fungsi dan hubungan isi bacaan itu dengan suatu masalah kehidupan yang lebih luas serta dampak dari bacaan tersebut.
Definisi membaca di atas adalah batasan membaca bukan hanya untuk membaca tingkat permulaan melainkan membaca yang sudah tegolong tingkat lanjut. Selain itu hal ini dimaksudkan untuk kebutuhan pengajaran membaca.
2. Teori Tentang Membaca
Hampir semua ahli atau sarjana yang mempelajari masalah membaca secara akademis menyepakati bahwa apa yang disebut membaca itu adalah suatu proses yang sangat rumit dan unik pula sifatnya. Dalam kesepakatan ini, mereka seolah-olah ditantang untuk memberikan proses membaca itu dalam bentuk suatu sistematik uraian yang diperkirakan akan mampu menggambarkan secara teknis bagaimana proses membaca itu berlangsung. Jadi, teori membaca dapat disimpulkan sebagai suatu kesepakatan para ahli untuk memberikan proses membaca itu dalam bentuk suatu sistematik uraian yang diperkirakan akan mampu menggambarkan secara teknis bagaimana proses membaca itu berlangsung.
Suatu tori membaca mempunyai nilai dan fungsi tersendiri dalam studi membaca dan pengajarannya.
a. Suatu teori membaca dalam kelebihan atau kekurangannya banyak sekali membantu pihak-pihak yang bermaksud mempelajari masalah membaca dan pengajarannya memperoleh gambaran tertentu tentang apa yang disebut membaca.
b. Khusus bagi para Pembina pengajaran membaca, suatu teori tentang pengajaran membaca sangat diperlukan tugas-tugasnya membina siswa dalam membaca. Berdasarkan teori membaca yang diikutinya, mereka akan sangat dimudahkan merancang pengajaran membaca yang akan dilaksanakannya, menyusun macam-macam programnya, dan mengarahkan kegiatan belajar-mengajarnya dalam rangka mencapai tujuan.
c. Mereka yang bermaksud melaksanakan suatu penelitian tertentu tntang masalah membaca dan pengajarannya suatu teori membaca mutlak dibutuhkannya. Teori membaca diperlukannya sebagai kerangka acuan kerja, sebagai dasar pembatasan masalah, dan sebagai nalar pemusatan penelitiannya.
Pendekatan yang selama ini diterapkan dalam syudi membaca untuk menghasilkan teori membaca pada dasarnya berkisar di sekitar tiga macam pendekatan, yaitu :
1. pendekatan konseptual
2. pendekatan emperikal
3. pendekatan eksperimental
1.1 pendekatan konseptual meliputi bermacam-macam metodologi pendekatan yang kesemuanya berangkat dari suatu konsepsi tentag membaca dan berkesudahan dengan suatu model tertentu tentang membaca.salah seorang perintis pendekatan konseptual adalah Kenneth s. Goodman. Pada tahap permulaannya ia ia menerapkan teori komunikasi yang merupakan aspek terapan dari teori linguistik untuk memerikan proses membaca dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran membaca. Menurut pandangannya, proses membaca pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu komunikasi antara pembaca dengan tuturan tertlis yang dibacanya. Menurut pandangannya prinsip membaca adalah sebagi berikut :
Ø membaca selalu terlibat dengan level pemahaman tertentu karena setiap bahan bacaan selalu mengungkapkan sesuatu.
Ø Paparan bahasa yangmewadahi sesuatu itu harus diperhatikan dengan teliti.termasuk di dalamnya yang patut diperhatikan ialah perubahan-perubahan bentuknya, polatatanan katanya dan kata-kata fungsinya.
Ø Dalam memulai pengajaran membaca guru tidak pada tempatnya menyajikan jumlah kosa kata yang erlalu besar.
Ø Bahan pelajaran ysng disajikan sebaiknya bahas yang sudah dikenal baik oleh siswa.
Ø Hindari pemakaian gambar sebagai kunci untuk menangkap makna.
Ø Sajikan raga, bahasa
Ø Isi bacaan hendaknya sesuai dengan pengalaman siswa.
Ø Perkenalkan dengan segera kata-kata fungsi dalam berbagai kelompok kata.
Ø Sediakan peluang yang cukup luas kepada siswa untuk mengembangkan level kemujuan membacanya.
Ø Usahakan pengalaman yang sejahar antara membaca dengan berbicara, menyimak dan menulis.
Menurut Goodman, untuk memahami proses membaca diperlukan suatu pengertian dasar atau batasan tentang membca. Selain itu, hendaknya batasan itu insklusif sifatnya sehingga dapat membedakan dengan tegas antara membaca dengan yang bukan membaca. Syarat-syarat lain yang harus diperhatikan membaca ialah tidak terlalu spesifik.
Aspek-aspek penting yang termasuk ke dalam prosesw membaca yang patut dimanfaatkan dalam rangka menetapkan batasan membaca menurut Goodman ialah :
Ø Membaca dimulai dengan menghadapi suatu bentuk bahasa tulis
Ø Tujuan membaca ialah merekonstruksi makna
Ø
Ø Persepsi visual termasuk ke dalam proses membaca
Ø Bentuk huruf, urutan, kelompok-kelompoknya tidak sama sekali membawa makna dalam dirinya sendiri
Ø Makna hanya ada dalan jiwa pengarang dan pembaca
Ø Pembaca umumnya mampu merekontruksi makna
Batasan di atas secara bebas dpat diterjemahkan “membaca adalah suatu proses yang rumit dimana pembaca melakukan rekonstruksi dalam tingkatan tertenru terhadap pesan yang dituangkan oleh pengarang dalam bahasa tulis”.
Dalam rangka memahami proses membaca orang harus memahami :
Ø Tulisan yang merupakan input
Ø Bagaimana bahasa itu bekerja,dan bagaimana bahasa itu digunakan oleh pembaca
Ø Seberapa banyak hasil belajar serta pengalaman pembaca yang dimanfaatkan dalam merekonstruksi makna
1.2 pendekatan emperikal pada dasarnya melihat proses membaca secara empiris yaitu lewat pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain yang melaksanakan kegiatan membaca.teori yang memanfaatkan pendekatam emperikal banyak ragamnya. Termasuk kedalamnya adalah:
Ø teori yang memandang membaca sebagai proses berpikir
Ø teori yang memandang membaca sebagai perangkat ketrampilan
Ø teori yang memandang membaca sebagai kegiatan mempersepsi atau kegiatan memperseptual
Ø teori yang memandang membaca sebagai kegiatan visual
Ø teori yang memandang membaca sebagai pengalaman bahasa
Teori yang memandang membca sebagai proses berpikir dirintis oleh Edward L. Torndike. Menurut pendapatnya, berpikir adalah kegiatan jiwa yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses membaca.proses membava adlah proses berpikir atau bernalar.
Proses kegiatan berpikir dan bernalar dalam proses membaca diungkapkan oleh J.P Guilford dalam karangannya berjudul “Frontiers in Thinkhing that Teacher should Know About”. Dalam karangan ini dikemukakan bahwa dalam membaca bekerja bermacam-macam tipe yaitu :
v kegiatan mengkognisi yaitu kegiatan mengenal dan menafsirkan symbol-simbol
v kegiatan mengingat
v kegiatan berpikir konvergentif yaitu menghasilkan na;ar secara induktif
v kegiatan berpikir divergentatif yaitu menghasilkan nalar secara deduktif
v kegiatan menilai yang meliputi egiatan membanding-bandingkan, mengkritik dan memutuskan.
Model membaca sebagai proses berpikir dirintis oleh jack A. holmes berlandaskan teori substrata-factor. Menurut teori ini, dalam kegiatan membaca bekerja beraneka ragam ketrampilan pokok dan subketrampilan tambahan yang difungsikan oleh otak.
Model proses membaca menurut teori substrata-factor adalah :
v Dalam otak manusia yang dapat membaca tersimpan empat factor ketrampilan mayor yaitu ketramilan mengingat bahasa, ketramilan mengingat pengetanuan dan pengalaman yang dimiliki, ketrampilan mengkonseptualisasikan dan ketrampilan menemukan hubungan bermakna dari hal-hal yang telah dibahasakan.
v Keempat factor ketrampilan mayor besreta perangkat factor subktrampilanminorna berhubungan secara berjenjang dan saling menunjang.
v Bacaan yang direspon pembaca pafa hakikatnyan adalah suatu verbal audio-visual.
Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa membaca adalah ketrampilan menerapkan nalar simbolik dalam mengolah bacaan. Pengolahan bacaan itu diperlancar oleh bekerja saling menunjangnya factor-faktor substrata yang berjenjang secara ketat sebagai suatu system kejiwaan yang tergerakkan.
Teori substrata factor selanjutnya dikembangkan oleh harry singer menyusun model proses membaca komprehensif dan membaca cepat. Modelnya membedakan tiga level proses membaca yaitu :
v Faktor yang utama menentukan pemahaman adalah kemampuan bernalar, pengetahuan tentang pembentukan kata, pemahaman makna kata, dan ketrampilan mengenal bunyi kata.
v Pemahaman makna kata ditentukan oleh ketrampilan-ketramopilan menampilkan makna verbal, pengetahuan tentang imbuhan, dan ketrampilan menemukan makna kata dar konteks.
v Ketrampilan menggunakan kunci-kunci konteks dalam memahami makna ditentukan oleh pengetahuan tentang imbuhan dan ketrampilan memilih lafal yanh betul dari kata.
Ketiga level faktor-faktor sustrata dalam membaca komprehensif dapat dikategorissikan sebagai pengenalan kata, makna kata, dan nalar dalam konteks. Pokok-pokok teori ini dapat dimanfaatkan pula untuk membina dan mengembangkan pengajaran membaca terutama dalam rangka menentukan isi, sekuensi, dan lingkup masalah untuk program pengajaran pengembangan, membina berbagai ketrampilan yang relevan dalam membaca,dan untuk menajamkan perencanaan pengajaran remedial dalam membaca.
Roma Gans (1940) dengan penelitiannya terhadap proses membaca komprehensif menyimpulkan bahwa membaca bukanlah suatu proses mekanikal yang sederhana, dan juga bukan suatu ketampilan skolatik yang sempit.lebih dari pada itu, membaca adalah proses berpikir yang didalamnya tercakup kegiatan menilai, memutuskan, mengimajinasi, menalarkan, dan memecahkan persolan. Elona E. Sochor menyatakan membaca kritis siswa menerapkan proses berpikir yang berupa kegiatan-kegiatan : menarik kesimpulan, mengindentifikasi suatu generalisasi, menerapkan informasi tertentu pada suatu situasi yang problematik, menemukan hubungan antar gagasan dalam bacaan, menentukan relevansi ide-ide, menemukan tema pokok bacaan, mengidentifikasi tujuan pengarang, dan menemukan variasi makna kata-kata dalam bacaan.
Teori yang memandang membaca sebagai perangkat ketrampilan dirintis oleh William S. Gray membaca tidak lain dari pada kegiatan pembaca menerapkan sejumlah ketrampilan mengolah tuturan tertulis yang dibacanya dalam rangka memahami bacaan itu. Jenis-jenis ketrampilan itu antara lain :
v Keterampilan mengenal atau merekognisi kata
v Keterampilan memahamiisi tersurat yang mencakup :keterampilan menangkap idea pokok paragraf dan ide-ide penjelasannya, keterampilan menemukan hubungan hubungan antar idea dalam bacaan, keterampilan menangkap isi pokok bacaan
v Keterampilan memahami isi tersirat yang meliputi: keterampilan mengidentifikasi tujuan atau maksud pengarang,” mood”serta sikapnya terhadap pembaca, keterampilan menalarkan pemilihan kata-kata, gaya bahasa dan retorik dari pengarang, dan keterampilan menentukan nilai dan fungsi isi bacaan berdasarkan pengetahuan serta pengalaman yang telah di miliki sebrelumnya oleh pembaca.
Emmet Albert Betts membedakan 27 kelompok faktor dan keterampilan yang termasuk kedalam keterampilan membaca komprehensif yang jika diperinci jumlahnya menjadi 47 macam. Menurut Guy L.Bond Wagner membedakan antara kemampuan dasar mengkomprehensif dan tipe-tipe komprehensif. Komprehensif yang pertama dimasukkannya 5 jenis keterampilan yaitu :
v Ketermpilan memahami makna kata
v Ketrampilan menangkap satuan-satian pikiran
v Keterampilan memahami makna kalimat
v Keterampilan memahami makna paragraph
v Keterampilan memahami keseluruhan isi bacaan
Dalam komprehensif yang spesifik, dibedakan menjadi 5 kelompokm keterampilan yaitu:
v Keterampilan membaca menangkap informasi factual
v Keterampilan menata hasil membaca (menetapkan sekuensi hubungan iide-ide, mengelompokkan material yang bersifat factual, menyusun sumber singkatan, menemukan hubungan material dari bermacam-macam sumber, dan mengikuti petinjuk yang digariskan dalam suatu bacaan).
v Keterampilan menilai (menentukan relevansi isi bacaan, menilai kebernalaran dan kecukupan isi bacaan, dan membedakan fakta dengan opini).
v Keterampilan menafsirkan( menangkap ide pokok) membuat generalisasi dari informasi-informasi faktua, mempprediksi hasil atau akibat dan menyusun opini.
v Keterampilan mengapresiasi(membentuk impresi, merasakan humor, mengapresiasi plot, dan me,ahami tokoh-tokoh dalam bacaan).
Membaca komprehensif bukanlah suatu keterampilan yang tunggal melainkan seperangkat keterampilan yang beraneka ragam.
Pandangan tewntang proses membaca sebagai penerapan seperangkat keterampilan tidak fisepakati oleh setiap orang banyak kecaman yang ditujukan kepadanya. Pada dasarnya kecaman-keecaman itu berpusar pada:
1. Konsep membaca teori keterampilan dikatakan terlalu sederhana malahan boleh dikattakan keliru karena membaca sebenarnya adalah suatu kesatuan proses yang rumit dan unik dan bukan rangkaian penerapan keterampiln secra bertahap.
2. Pengaruh kurang baik pandangan teori keterampilan [pad pelaksana pengajaran memvac yang bdlum banyak mendalami proses membac . teori ini antara lain akan ,endorong mereka memotong-motong membac menjadi bagian-bagian yang terlepas darim keutuhan kesatuannya untuk kemudian tiap bagian diprogramkan secara tersendiri. Dengan cara ini, bukan mustahil kalau mereka tenggelam dalam tiap programya dan melupakan pengintegrasian program yng satu dan program yang lainnya. Akibatnya siswa mungkin menguasai tiap keterampilan sebagai keterampilan tersendiri namun tidak mampu memadukan keterampilan yang asatu dengan yang lainnya.
Teori perceptual, yaitu teori yang memandang membaca sebagai proses mempresepsi. Perintis teori ini adalah D.H. Dussell menurut pendapatnya, untuk memudahkan pemahaman terhadap membaca sebagai proses mempersepsi, pertama-tama perlu diketahui bahwa apa yang disebut persepsi itu dari satu segi dapat dibatasi sebagai sesuatu yang telah dikenal sebagai suatu objek, suatu kaulitas, atau suatu hubungan yang ketiga-tiganya merupakan hasil dari suatu pengalaman sendiri. Selain itu, persepsi adalah hasil belajar. Teori yang menjelaskan bagaiman membentuk persepsi adalah :
1. Teori sintetik memandang bahwa persepsi terbenruk dalam proses belajar meengasosiasikan stimulus dengan respon bermakna
2. Teori nalistik yang menerangkan bahwa pembentukan persepsi itu berlangsung secara bertahap. Pada tahap pertama pembaca mereaksi suatu stimulan sebagai suatu pola yang kabur, tahap kedua reaksinya tertuju kepada bagian-bagian darim pola itu, dan akhirnya pada tahap ketiga pembaca mengintegrasikan hasil-hasil reaksi bagian-bagian itu menjadi suatu pola baru yang jelas
Oleh Russel ditegaskan teori manapun disepakati, yang jelas sama dalam hubungan ini ialah teori persepsi menerangkan proses pemmahaman makna dalam kegiatan membaca. Dengan dasar teori ini, pengajaran membaca disarankan untuk:
1. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa karena dengan demikian persepsinya akan menjadi jelas
2. Memberi peluang kepada siswa untuk menirukan sehingga mereka da[pat menghayati yang dtirukan
3. Membina penguasaan terhadap pola bagian-bagian bacaan yanhg alan memudahkan siswa mengintegrasikannya menjadi pola keseluruhan yang utuh
4. Membimbing siswa menganalisis hubungan yang akan membantu mereka memperoleh persepsi, lebih lagi kalau stimulant yang direspon siswa rumit keadaannya
5. Member prluang kepada siswa mengalami, mengasosiasikan variasi berbagai bentukkan bahasa, dan
6. Menjamkan ingtan mereka terhadap yang telah dipahami.
Guy T.Buswell melihaat membaca juga sebagai proses mempersepsi. Proses ini menururt pendapatnya berupa kegiatan merekognisi atau mengenal bentuk tilis dari kata-kata dan unsur0unsur bahasa bacaan yang lainnya sebagai symbol bentuk lisannya. Dalam proses mengenal ini, pembaca memberikan respon makna tertentu dengan memanfaatkan pengetahuan serta pengalaman yang telah di milikinya. Selanjutnya ditekankan pula bahwa proses atau kegiatan mempersepsi merupakan inti dari proses membaca. Oleh karena itu, problem pokok yang dihadapi pengajaran membaca ialah membina kemampuan siswa mempersepsi, terutama mempersepsi secara visual. Dikatakan demikian, karena dalam setiap proses membaca, tujuan utama ialah mengangkat makna dari simbol-simbol verbal yang tertulis. Teori persepsi cenderung memandang membaca dalam pengertian yang agak sempit. Membaca bukan semata-mata masalah mekanisme mentransfer bahasa tuliss ke bahasa lisan. Proses membaca jauh lebih rumit dari pada itu.
Toeri ke empat yang tergolong ke dalam pendekatan emperikal adalah teori visual, yaiatu teori yang memandang membaca semata-mata sebagai kegiatan siswa. Perintisnya adalah Emile Javal seorang guru besar yang hali dalam bidang studi membaca yang dengan tekun mempelajari cara orang membaca. Berdasarkan hail-hasil penelitiannya, javal sam,pai pada kesimpulan bawha pada waktu membaca mata tidak bergerak dengan perlahan-lahan dari kiri ke kanan di sepanjang baris-baris kalimat bacaan. Proses membaca menurut teori visual dalam garis besarnya dapat digambar sebagai berikut:
1. Sebelum membaca yang sebelumnya dimulai, pembaca mengamati halaman bacaan secara global.
2. Proses membaca dimulai.
3. Setelah baris yang pertama berakhir dibaca, selanjutnya mata membuat lompatan mata ke kiri, ke awal baris kedua untuk melakukan lompatan-lompatan membaca. Gambaran ini bukanlah rekaan belaka, melainkan hasil penelitian dengan teknik dan alat-alat teknologi modern. Teknik yang pertama menggunakan alat yang bernama tachistoscope, yaitu suatu alat yang dapat dipakai memperhitungkan jumlah waktu yang dibutuhakn seorang pembaca memahami pada saat selang mencamkan atau fiksasi. Teknik yang kedua adalah teknik yang menggunakan fotohgrafi gerak mata. Denagn teknik ini dapat diperoleh gambaran tentang rentanagn rekoknisi kata atau lebarnya lompatan, dan keteraturan gerak mata dalam membaca serta jumlah selang membaca pada tiap baris kalimat.
Teori visual erat sekali kaitannya dengan teori persepsi atau teori perceptual. Kedua-duanya memusatkan perhatian kepada masalah teknik dan keterampilan dasar dalam proses membaca.
Teori yang kelima berakar pada pendekatan emperikal adalah teori pemahaman bahasa. Teori ini memegang konsep bahwa belajar membaca merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses perkembangan bahasa siswa. Perintis teori ini adalah R. Van Allen ia mengasumsikan membaca merupakan pengalaman bahasa, yaitu proses menterjemahkan pengalaman ke dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis. Teori pengalaman bahasa dalam membaca diikuti oleh Laurence W. Karilo hasil pengujannya menyimpulkan bahwa:
1. Bahasa yang secara langsung diangkat dari pengalaman bahasa visual atau yang sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa visual, jauh lebih bermakna bagi siswa daripada bahasa yang diangkat dari sumber lain.
2. Pengalaman yang baru saja dilami siswa secara nyata ternyata mampu berfungsi memotivasi belajar membaca, membangkitkan perhatian, minat dan semangat.
Pendekatan eksperimental
Pendekatan ini meliuputi bermacam-macam studi dan penelitian yang dilaksanakan denagn eksperimentasi untuk mengkaji:
1. Bagaimana pemahaman berlangsung dalam proses membaca
2. Jenis-jenis kemampuan intelektual apa saja yang bekerja dalam proses pemahaman itu
3. Faktor apa yang berpengaruh dalam proses membaca, baik terhadap perilaku membaca maupun terhadap kelancaran dan keberhasilan membaca.
Teori yang dimanfaatkan sebagai landasan eksperimentasi adalah teori yang memandang membaca sebagai proses atau kegiatan menangkap makna dari bacaan. Beberapa penemuan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pelajaran membaca, pertama adalah penemuan-penemuan mengenai proses mempersepsi makna. Pemanfaatan kedua dari pendekatan eksperimental dapat ditelusuri jejak-jeaknya pada studi dan penelitian yang mengkaji jenis-jenis kemapuan intelektual yang bekerja dalam proses pemahaman pada waktu pelaksanaan membaca. Denagn menerapkan analiss factor, Davis menyimpulkan bahwa ada empat jenis keterampilan intelektual yang diterapkan pembaca dalam membaca komprehensif, yaitu:
1. Mengingat makna kata dan menarik kesimpulan tentang makna suatu kata dari konteks bacaan.
2. Menangkap makna tersurat dari bagian-bagian bacaan dan mengkerakakan ide-ide dalam bacaan.
3. Mearik kesimpulan tentang isi bacaan
4. Menangkap tujuan atau maksud pengarang bacaan.
Hal tersebut kemudian diteliti oleh spearrit dengan prosedur analisis yang berdbeda akhirnya menghasilkan 4 keterampilan intelektual, yaitu:
1. Menarik kesimpulan tentang isi bacaan
2. Mengingat makna kata
3. Mengikutoi struktur bacaan
4. Menangkap maksud dan tujuan pengarang
Taksonomi barret membedakan 5 kelompok keterampilan intelektual dalam membaca komprehensif, yaitu:
1. Pemahaman literal
2. Penataan kembala (reorganisation)
3. Pemahaman inferensial
4. Penilaian
5. Apresiasi
C. Faktor Pemengaruh dalam Membaca
Faktor pengaruh dalam membaca berasal dari dalam diri anak didik dan diluar diri anak didik tersebut. Factor-faktor tersebut antara lain:
Factor intelegensia
Intelegensia yang dikonsep sebagai kemampuan mentalatau potensi belejar telah dibuktikan berpengaruh terhadapproses pemahaman dalam membaca hampir pada setiap jenjang pendidikan.
Fator sikap
Sikap sebagai kecenderungan jiwa yang prediktif sifaatnya dalam mereaksi, sesuatu, oleh sementara ahli bidang studi membaca telah dikaji pengaruhnya terhadap kemampuan membaca
Faktor perbedaan kelamin (seks)
Perbedaan kelamin juga berpengaruh dalam belajar membaca
Faktor penguasaan bahasa
Penguasaan bahasa sebagai factor yang berpengaruh dalam proses memahami bacaan telah banyak dibuktikan dengan studi dan penelitian yang menerapkan pendekatan konseptual dan pendekatan emperikal.
Faktor status ekonomi-sosial
Faktor ini dibuktikan lewat penelitian eksperimental berpengaruh terhadap kemampuan membaca.
Faktor bahan bacaan
Pengaruh isi bacaan sangat mempengaruhi kemampuan dalam membaca
Ruddel menemukan bahwa bahan bacaan yang struktur kalimatnya sama dengan struktur kalimat bahasa lisan yang dikuasai siswa jauh lebih mudah dipahami daripada sebaliknya.
Wilcox menemukan bahwa siswa remaja lebih mudah memahami bacaan yang dilengkapi dengan skema atau tabel.
Faktor guru
Dalam pelaksanaan membaca ini, guru dianggap sebagai factor yang paling menentukan hasilnya.
MASALAH PENGAJARAN MEMBACA DAN PEMBINAANNYA
1. Hakikat, Kedudukan dan Fungsi Pengajaran Membaca
Pengajaran membaca pada hakikatny perangkat usaha formal-konvensional yang dilakukan secara sadar berencana untuk membina siswa dalam membaca. Rumusan ini menggambarkan banyak hal antara lain :
1.1 pengajaran membaca mencakup berbagai macam usaha yang saling bertaut satu dengan yang lainnya sehingga merupakan suatu perangkat usaha.
1.2 Pengajaran membaca merupakan perangkat usaha formal,yaitu usaha resmi yang melembaga sifatnya dalam bidang pendidikan.
Kedudukan membaca dalam dunia pendidkan yaitu disatu pihak sebagai integral, yaitu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keututuhan pendidikan. Dilain pihak pengajaran membaca berkedudukan sebagai alat dan media fungsional, yaitu alat dan media yang mempunyai tersendiri dalam keseluruhan kegiatan pendidikan.
Funsi utama pengajaran membaca disatu pihak menjaga keutuhan kehadiran pendidikan dan pengajaran membaca khususnya, dan dipihak lain membina siswa dalam bidang membaca. Selin itu, membaca juga mempunyai fungsi social dan fungsi instrumental. Fungsi social pengajaran membaca dapat diamati dari perananya ikut mempertahankan kehadira membaca dalam kehidupan manusia.sedangkan fungsi instrumental pengajaran membaca dapat diamati dari pemanfaatan pengajaran membaca sebagai ajang penerapan hasil-hasil studi atau penelitian membaca disatu pihak, dan merangsang berkembangnya penelitian dan pengkajian terhadap masalah membaca dipihak lain.
2. Tugas dan Tujuan Umum Pengajaran Membaca
Tugas pokok pengajaran mebaca ialah membina siswa dalam bidang membaca. 2.1 membina siswa agar mereka memiliki kemampuan atau keterampilan yang baik dalam membaca.
2.2 membina pengetahuan siswa tentang membaca
2.3 membina siswa agar mreka memiliki sikap positif terhadap belajar membaca disatu pihak, dan terhadap membaca dipihak lain.
Tujuan umum pengajaran membaca dapat diperinci sebagai berikut :
a). kemampuan natau keterampilan yang baik dalam membaca yang tersurat, tersirat, dan tersorot dari macam-macam tuturan tertulis yang dibacanya.
b). pengetahuan tentang nilai dan fungsi membaca dan teknik membaca untuk mencapai tujuan tertentu.
c). sikap yang positif terhadap membaca dan belajar membaca.
Tujuan tambahan ialah berpartisipasi dalam :
a). usah memasyarakatkan dan membuddayakan membaca
b). memanfaatkan serta merangsang studi dan penelitian membaca.
3. Macam-macam Pengajaran Membaca
3.1 pengajaran membaca permulaan
pengajaran membaca ini disajikan pada siswa tingkat permulaan sekolah dasar.tujuannya ialah membinakan dasar-daar mekanisme membaca.
3.2 pengajaran membaca nyaring
pengajaran membaca nyaring ini disatu pihak dianggap merupakan bagian atau lanjutan dari pengajaran membaca permulaan.
3.3 pengajaran membaca dalam hati
pengajaran membaca ini membina siswa agar mereka mampu membaca tanpa suara dan mampu memahami isi tuturan tertulis yang dibacanya.
3.4 pengajaran membaca pemahaman pemahaman
dalam prakteknya keterampilan membaca pemahaman hampir tidak berbeda dari pengajaran dalam hati.
3.5 pengajaran membaca bahasa
pengajaran membaca ini pada dasarnya merupakan alat dari pengajaran membaca.
3.6 pengajaran membaca tehnik
pengajaran membaca tehnik memusatkan perhatiannya kepada pembinaan-pembinaan kemampuan siswa menguasai teknik-teknik membaca yang dipandang patut.
3.7 pengajaran membaca pengembangan
pengajaran membaca pengembangan bertujuan membina pengetahuan atau keterampilan ,membaca siswa yang meliputi dua kelompok kemampuan, yaitu kemampuan menguasai mekanisme membaca dan kemampuan memahami bacaan secara komprehensif.
3.8 pengajaran membaca fungsional
pengajaran membaca fungsional pada dasarnya membina kemampuan siswa menggunakan membaca sebagai alat belajar dalam arti kata yang seluas-luasnya.
Jenis- jenis kemampuan yang dibina lewat pengajaran membaca ini adalah :
1). Kemampuan menemukan informasi yang dinutuhkan dengan tepat yang meliputi kemampuan menggunakan indeks, kemampuan menggunakan ensiklopedia, dan kemampuan menggunakan buku-buku referensi.
2). kemampuan memahami istilah-istilah teknis.
3). Kemampuan memahami uraian teknis dari suatu bidang studi tertentu
4). Kemampuan menata hasil maembaca
3.9 pengajaran membaca rekreasional
Pengajaran membaca ini pada dasarnya membina minat baca siswa, selera bacaannya, dan daya apresiasinya.
3.10pengajaran membaca fungsional
pengajaran membaca ini membina kemampuan menggunakan hasil belajar membaca sehingga pengarahan dan pengembangan dipusatkan pada usaha memandu siswa menggunakan kemampuan membacanya untuk belajar, atau untuk memperoleh informasi yang dibutuhkannya.
4. Prinsip-prinsip Pengajaran Membaca
Prinsip ialah kaidah-kaidah dasar yang berupa acuan kerja teoritikal, dan yang berfunngsi memandu pelaksanaan pengajaranmembaca. Prosedur pengajaran membaca dari satu segi adalah jabaran teknis atau penerapan dari sebuah atau sejumlah prinsip pengajaran membaca.dilihat dari segi isinya, prinsip-prinsip pengajaran membaca memuat olahan dan paduan informasi dari berbagai bidang studi yang secara langsung atau tidak bertautan dengan masalah belajar membaca.
Beberapa prinsip pengajaran membaca antara lain :
4.1 belajar membaca adalah suatu proses yang sangat rumit, dan sangat peka sifatnya terhadap berbagai pengaruh dari luar yang menekan.
4.2 Belajar membaca pada hakikatnya adalah proses belajar yang bersifat perseorangan.
4.3 Pengajaran membaca yang baik adalah pengajaran membaca yang memanfaatkan dengan tepat hasil diagnosis kesulitan belajar membaca ppada siswa dan hasil pengkajian kebutuhannya dalam membaca.
4.4 Belajar membaca hanya mungkin berlangsung lancer dan berhasil baik, jika bahan pelajaran yang disajikan sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik.
4.5 Membaca pada hakikatnya adalah proses memahami danmemberikan makna kepada tuturan tertulis yang dibaca.
4.6 Dalam pengajaran membaca, tidak ada satu pun cara yang super sifatnya.
4.7 Konsep kesiapan membaca tidak hanya berlaku pada pengajaran membaca permulaan, tetapi pada etiap tingkat pengajaran membaca.
4.8 Pengajaran membaca harus membina siwa menguasai kunci-kunci membaca.
4.9 Pengajaran membaca harus dirancang demikian rupa sehingga mampu membina kebiasaan membaca pada siswa sebagai suatu yang menyenangkan.
4.10 Pengajaran membaca hendaknya mengembangakan macam-mmacam program jenis membaca dalm perimbangan yang harmonis, dan memvariasiakn kegiatan belajar siswa.
4.11 Kemampuan atau keterampilan membaca yang spesifik hendaknya dibina lewat suatu sistematik latihan yang spesifik pula.
4.12 Menghalangi terjadinya kesalahan lebih bik daripada mengobati dalam belajar membaca.
5. Pembinaan Pengajaran Membaca
Pembinaan pengajaran membaca di Indonesia pada dasarnya adalah pengajaran membaca tradisional, yaitu pengajaran membaca yang masih mengikuti tradisi-tradisi pengajaran pada masa lampau, baik dalm pemikiran-pemikirannya maupun dalam pelaksanaannya.
Kelemahan ddan kekurangan pengajaran membaca tradisional yaitu :
5.1pengajaran membaca yang diikuti dalam pengajaran membaca tradisional adalah pengajaran membaca yang sempit, yaitu pengertoan yang memandang membaca sebagai proses atau kegiatan menagkap makna dari tuturan tertulis.
5.2pengajaran membaca tradisional cenderuung memusatakn kegiatannya membina siswa belajar agar mereka dapat membaca.
5.3 pengajaran membaca tradisional pada dasarnya adalah memandang anak didik dengan kondisi yang sama.
5.4 pengajaran membaca tradisional cenderung menempatkan pengajaran membaca sebagaii pengajaran yang berdiri sendiri.
5.5 guru-guru yang membina dan melaksanakan pengajaran membaca tradisional pada umunyya kurang memiliki pengetahuan serta wawasan yang agak luas tentang masalah membaca dan pengajarannya.
Tantangan yang dihadapi dalam pengajaran membaca yaitu :
a). Kemampuan yang dibutuhkan masyarakat modern
b).perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
c). kemajuan studi membaca dan pengajarannya
d). tuntutan pendidikan modern
e). ledakan populasi siswa
pembinan yang patut dilaksanakan ialah pembinaan yang berfungsi ganda, yaitu menghilangkan kelemahan-kelamahanpengajaran membaca tradisional disatuu pihak, ddan yang secara langsung atau tidak, dapat memberikan jawaban atau penyelesaiian yang mengena terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi pengajaran membaca.
Pembinaan pengajaran membaca yang patut dilakukan adalh :
1). Memperbaharui konsep membaca, dan belajar membaca.
2). Membenahi pengajaran membaca
3). Mengembangkan lembaga dan kegiatan-kegiatan yang secara khusus memusatkan perhatiannya kepada masalah pembinaan dan mengembangkan pengajaran membaca.
4). Menggalakkan serta menunjang penelitian masalah membaca dan pengajarannya dengan member peluang serta bantuan kepada orang-orang yang berminat sebagai peneliti dalam bidang membaca dan pengajarannya.
5). Membangkitkan serta menyalurkan partisipasi pemerintah dan masyarakat pada umunya untuk berpartisipasi terhadap gagasan dan usaha mengembangkan serta meningkatkan mutu pengajaran membaca.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Membaca adalah proses pengolahan bacaan seccara kritis-kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, funsi, dan dampak bacaan itu. Selain itu,
membaca itu adalah suatu proses yang sangat rumit dan unik pula sifatnya kerumitannya terutama terletak pada banyaknya seta beraneka ragamnyafaktor yang satu dengan yang lainnya. Keunikannya terletak pada relative berbeda-bedanya proses membaca itu pada setiap pembacanya.
Proses membaca berlangsung sebagai bentuk respon pembaca terhadap tuturan tertulis( bacaan) yang menstimulasinya. Respon pembaca ini bukanlah respon pasif, melainkan respon aktif yang mengandung tingkat kesadaran tertentu. Dan bacaan sebagai stimulant yang mengandung respon menunaikan tugasnya karena tersimpannya makna dalam kehadirannya.
Bacaan sebagai stimulant, dalam wajah permukaanya berupa paparan bahas tulis yang tersusun dari material bahasa ( kosa kata, frasa dan kalimat), tertata dalam tata tuturan tertentu dan tertulis menurut tata penulisan yang berlaku. Dalam tuturan keseluruhan bahasa ini cir-ciri dan kunci penanda makna, baik yang bersifat structural maupun yang bersifat retorikal.
Respon aktif pembaca yang berupa proses membaca mencakup berbagia kegiatan mental yang secara keseluruhannya merupakan kegiatan mengolah bacaan itu. Menerapkan berbagai kemampuan intelektual dan strategi kognitifnya dalam rangka membentuk konsepsi dan konsep-konsep merekonstruksi makna bacaan itu.dalam keseluruhan bacaan ini, pembaca banyak sekali memnfaatkan cirri-ciri dan kunci penanda bahasa bacaan untk memprediksi, menginterpretasi, dan merekonfirmasi makna yang tepat. Selain daripada itu, banyak pula dimanfaatkannya pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya.
Kelancaran dan keberhasilan pembaca dalam membaca dipengaruhi oleh berbagai factor, baik dari dalam diri pembaca sendiri maupun dari luar dirinya. Intelegensia, sikap, penguasaan bahasa, perbedaan kelamin dan perbedaan logatnya dengan bahasa bacaan adalah beberapa factor dalam yang signifikan pengaruhnya dan beberapa factor luar yang ikut berperan meliputi kondis bacaan, baik bahasanya, isinya dan tingkat keterbacaannya, maupun kesesuaian bacaan itu dengan daya tangkap pembaca. Selain daripada itu, keadaan status social ekonomi pengajaran membaca terutama peranan guru yang membinanya adalah factor luar yang tidak kecill pengaruhnya.
Pengajaran membaca pada hakikatnya adalah perangkat usaha formal-konve nsional yang dilakukan secara sadar berencana untuk membina siswa dalam membaca. Kedudukan pengajaran membaca adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keutuhan pendidikan. Fugsi Pengajaran membaca adalah menjaga keutuhan kehadiran pendidikan dan pengajaran bahasa khususnya serta membina siswa dalam bidang membaca. Apa pun bentuk, jenis, dan sifat factor yang berpengaruh, kelancaran dan keberhasilan dalam membaca dapat bibina secara formal lewat pengajaraan membaca yang dirancang, diprogramkan serta dilaksanakan dengan baik.
B. Saran
Selaku penyusun saya berharap pembaca hendaknya selalu meningkatkan minat swrt kemampuan membaca. Sebagai seorang guru hendaknya selalu meningkatkan proses pembelajaran susnya pengajaran membaca. Selalu memperbaharui konsep membaca,dan selalu membenahi pengajaran membaca dengan mensistematiakn tujuan membaca,memilih atau menyusun bahan pelajarannya serta metode dan teknik secara lagsung.
Selalu mengembangkan ragam program pengajaran yang sesuai dengan tingkat kematangan siswa. Untuk pemerintah hendaknya selalu meningkatkan mutu pelaksana pengajaran membaca di lembaga-lembaga pendidikan. Menggalakkan serta menunjang penelitian masalah membaca dan pengajarannya dengan member peluang serta bantuan kepada orang-orang yang berminat sebagai peneliti dalam bidang membaca dan pengajarannya.
Selalu membangkitkan serta menyalurkan partisipasi pemerintah dan masyarakat pada umunya untuk berpartisipasi terhadap gagasan dan usaha mengembangkan serta meningkatkan mutu pengajaran membaca.dan hendaknya memiliki niat,kemauan, dan tekad untuk melaksanakan atau mengembangkan pembinaan penggajaran membaca.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar