ZERO
Karangan Putu Wijaya
SINOPSIS:
Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang, masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan. Dengan dalih menciptakan perdamaian, manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil.
ARTIKEL
Suara deburan ombak kemudian berubah menjadi kekacauan di mana-mana. Dari layar lebar berwarna putih terlihat bayang-bayang itulah awal pertunjukkan zero.
Suara musik dan permainan cahaya dari lampu yang digotong-gotong serta pantulan slide membuat tontonan itu terlihat adegan perang dalam pertunjukan wayang kulit.
Zero yang merupakan pertunjukan visual yang tidak menggunakan bahasa verbal, melainkan menekankan pada permainan musik, gerak dan suasana. "Zero" mengandung gagasan, untuk mengakhiri peperangan caranya adalah dengan kembali ke wilayah nol.
Zero adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan. Dalam drama zero kita sungguh sulit menemukan alur dan sulit mengerti maksud dari adegan-adegan yang ada dalam drama itu, apa sang pengarang sengaja melakukan pembelokan-pembelokan agar sulit dimengerti. Drama yang memiliki cerita yang jalinan ceritanya tidak lurus, tapi patah-patah., misalnya pada saat adegan seorang perempuan yang sedang menari, ditarik masuk ke dalam layar, semua pemain bergumul didalam layar, kemudian tiba-tiba perempuan mengeluarkan kepalanya dan tubuhnya seperti raksasa, dia menjerit-jerit, merintih kesakitan, seperti meminta pertolongan.
Pertunjukannya selalu mengunakan layar, gerak, eksplorasi tubuh dan sangat minim sekali dialog yang keluar dari pemain, kalau pun ada hanya bahasa-bahasa simbol yang ingin menyatakan sesuatu. dan para pemainnya hanya mengeluarkan suara yang mengeram seperti binatang. Selain itu, dari pertunjukan Zero, ada beberapa adegan yang pemainnya menggunakan topeng, ada juga pada saat topeng itu di simbolkan sebagai wajah yang diapit oleh layar atau kain menjadi seperti roh atau arwah penasaran yang membuat bulu kuduk merinding, sepertinya dari pertunjukan itu arwah itu ingin mencari tempat atau keberadaannya, arwah itu seperti ingin membalas dendam.
Lebih-lebih pada saat perempuan yang menari dan dibelakangnya diikuti oleh dua orang yang dibalut dengan kain dan menggunakan topeng, hal itu seperti menunjukan sesuatu, seperti suatu upacara ritual pemanggilan roh. Dari adegan-adegan yang diperankan dalam drama zero ini kita akan sulit mengerti bukan hanya dari cerita tetapi cerita itu seperti pada saat kita mimpi Mimpi umumnya tidak bisa diartikan. Kalau ingin diartikan boleh saja. Karena meloncat-loncat, mimpi lebih kaya bila dinikmati dengan rasa.seperti itulah drama zero ini.
Tidak ada cerita. Yang ada hanya kesan-kesan seperti kalau kita mimpi. Dengan teater ini mungkin pengarang ingin mengajak penonton untuk mengembara ke dalam imajinasi dan melakukan penafsiran-penafsiran. Itu akan membawa kita ke dalam diri kita sendiri. Jadi teater sebenarnya adalah sebuah pertualangan untuk mengenal lebih mendalam diri sendiri.
Dalam pertunjukan Zero lebih banyak bergumul di kain, para pemain lebih banyak mengeksplor gerak-gerak tubuh mereka, Kalau diperhatikan secara sepintas pertunjukan Zero misalnya tetap menggunakan layar besar, musik keras, efek-efek pencahayaan yang mendukung situasi pengadeganan dan untuk membangun emosi, ada juga adegan perempuan yang diperkosa, dan disiksa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar